ayanafara
Newbie
Newbie
Fri Apr 06, 2018 4:27 pm
Image
Salah satu hal yang harus diperhatikan saat mengajukan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) adalah tenor. Tenor merupakan jangka waktu atau lamanya angsuran kredit yang diajukan. Untuk menentukan masa tenor, bank memiliki beberapa pertimbangan seperti masa pensiun atau hal lainnya seperti pendapatan bulanan.

Dalam skema KPR, jangka waktu KPR sangat berkaitan dengan jumlah DP yang harus dibayarkan. Ada beberapa penawaran yang bisa Anda pilih, di antaranya DP besar - cicilan kecil, DP kecil - cicilan besar, atau DP kecil - cicilan kecil dengan tenor lama (bisa sampai 20 tahun).

Mentukan Jangka Waktu KPR

1. Usia
Berapa usia Anda saat ini? Semakin muda usia, maka Anda bisa mengambil jangka waktu KPR yang lebih panjang. Umumnya, bank menetapkan usia maksimal mulai dari 55 hingga 65 tahun. Jadi, jika mengajukan KPR di usia 40 tahun mengambil jangka waktu KPR hingga 20 tahun, besar kemungkinan pengajuan KPR Anda akan ditolak.

2. Pekerjaan
a. Jangka waktu lama (lebih dari 15 tahun)
Jangka waktu KPR yang lama artinya cicilan yang ringan hingga lunas. Tenor ini bisa dipilih kalau kita sudah mantap bekerja di suatu perusahaan yang kuat atau menjadi pegawai negeri sipil ataupun karyawan BUMN. Karena seiring dengan waktu, gaji kita tentunya bertambah sebagai pegawai. Sedangkan cicilan tetap ringan.

b. Jangka waktu pendek (kurang dari 15 tahun)
Tenor yang pendek bisa dipilih mereka yang lebih dari sekadar berkecukupan seperti Artis. Sebab cicilan per bulan bakal memberatkan jika gajinya minim.

Misalnya cicilan selama 5 tahun Rp 4 juta per bulan. Kalau pemasukannya Rp 6 juta, Anda bisa kelimpungan. Belum lagi jika suku bunga meningkat karena ekonomi nasional merosot. Umumnya bank menerapkan bunga tetap selama 1 tahun cicilan. Setelah itu, suku bunga mengikuti perkembangan pasar.

Jangka waktu KPR pendek juga bisa diambil mereka yang berniat investasi rumah atau kondisinya memaksa untuk pindah-pindah rumah, misalnya kerja sesuai dengan dinas. Rumah yang sudah lunas lebih mudah untuk dijual.
Daripada di tengah jalan harus oper kredit lantaran tenor belum kelar. Pengurusannya akan lebih memakan waktu, biaya, dan tenaga.

3. Uang Muka atau Down Payment (DP)
Jika Anda membayar DP besar, maka jumlah cicilan pun semakin kecil dan jika Anda membayar DP kecil, jumlah cicilan pun besar. Jadi, pastikan Anda membayar DP semaksimal mungkin untuk meringankan beban cicilan ke depannya. Ada beberapa pengembang yang menawarkan uang muka sistem cicilan. Jika mampu membayarnya, hal ini juga bisa dijadikan pilihan.

4. Utang-utang Lain
Jika masih memiliki cicilan lain, sebaiknya lunasi dulu utang-utang tersebut sebelum memutuskan membeli rumah dengan KPR. Ini perlu diwaspadai daripada nantinya Anda terbebani.