Forum bagi Anda untuk berbagi info seputar hal-hal umum
User avatar
SusiloPramono | Wartawan
Kontributor
Kontributor
Mon Apr 17, 2017 4:03 pm
Image


“Selamat datang di surga dunia,” itulah slogan yang tertulis di brosur Ponte City, 40 tahun lalu. Tapi itu semua tinggal kenangan karena kompleks apartemen yang sempat menjadi idaman di Johannesburg, Afrika Selatan. Gedung 54 lantai berbentuk silinder dengan bagian tengah yang bolong dan mirip ‘jurang’ itu adalah apartemen paling tinggi di Afrika, yang dibangun pada tahun 1970-an.

Pembangunannya adalah bagian dari tata kota ala rezim apartheid. Hanya keluarga berkulit putih kaya yang bisa tinggal di unit terbaik, menghadap ke luar, bermandikan cahaya Matahari. Sementara, para pembantu berkulit hitam tinggal di bagian yang muram, dengan jendela teramat kecil yang nyaris tak bisa melihat ke luar ruangan. Ada 6 penthouse atau griya tawang di Ponte City untuk orang-orang berkantong tebal, lengkap dengan sauna dan gudang anggur.

“Aku melapisi dinding penthouse dengan karpet bulu berwarna oranye. Benar-benar mewah,” kata Rodney Grosskopff, mantan pekerja perusahaan arsitektur Manfred Hermer, yang mendesain bangunan tersebut kepada Slate, dilansir laman Liputan6.com, Kamis 12 Februari 2015. “Setiap orang bermimpi untuk tinggal di apartemen tertinggi di Afrika itu.” Namun, hanya dibutuhkan waktu tak lama hingga kejayaan itu meredup.

Bangunan mewah tersebut berlokasi di kawasan paling berbahaya di Afrika Selatan, di tengah area Yeoville, Berea, dan Hillbrow. Statistik dari harian Citizen memberi gambaran, seperti apa hidup di area tersebut: “Data yang mengejutkan, ada 59.000 kejahatan yang dilakukan di Hillbrow antara tahun 1999 sampai 2001. Termasuk 640 pembunuhan, 988 pemerkosaan, 7.521 penyerangan, 6.775 perampokan dengan senjata api, 7.689 perampokan lain, 3.523 pencurian kendaraan, dan 18.717 pencurian.”

Image


Maka tak heran, masalah kemudian menjalar ke bagian dalam Ponte City pada tahun 1980-an dan 1990-an. Pasca-kejatuhan rezim apartheid pada 1994, kondisi makin memburuk karena para bandar narkoba dan pemimpin geng pindah ke sana. Ikut tinggal dalam kompleks apartemen. “Tak ada kontrol. Sebagian besar dari bangunan mulai rusak dan…menjadi surga para kriminal,” kata Jenderal Theko Pharasi dari Kepolisian Afrika Selatan kepada Vocativ.

Satu per satu para penghuni memutuskan pindah, meninggalkan bangunan pencakar langit yang kini terlihat memprihatinkan. Ongkos sewa menurun tajam, nilai bangunan anjlok. Masih ada yang tinggal di sana. Namun, apartemen mewah itu kian menjadi ‘pemukiman kumuh’ tertinggi di Afrika. Bangunan 173 meter tersebut terlantar. Tak ada sisa-sisa kemewahan, kecuali bentuknya yang menjulang tinggi. Tumpukan sampah menggunung di tengahnya, mencapai 5 tingkat. Konon, bangkai-bangkai kucing bercampur dengan segala macam kotoran yang terkumpul.

Bangunan Angker

Ponte juga dikenal angker karena reputasinya sebagai lokasi bunuh diri. Sejumlah orang mengakhiri hidup dengan cara melompat dari salah satu balkon yang tinggi. “Soal itu sudah terkenal, ada banyak kasus bunuh diri dalam gedung itu,” kata salah satu penghuni, Ntombi Masuku. “Mudah bagi orang untuk melompat. Meski pencegahan sudah dilakukan dengan cara mengunci mati jendela,” timpal penghuni lain, Desire Seako. Berapa pastinya angka kematian akibat bunuh diri belum diketahui.

Kini, terbesit harapan bagi para penghuninya. Hidup di Ponte City ada potensi untuk lebih baik. Sebab, meski masih berada di lingkungan tak aman, sejumlah anggota geng sudah hengkang, pindah ke bangunan di dekatnya, Sands Hotel. Pemilik gedung yang baru, yang mengelola sejak 2007, telah merenovasi Ponte City. Menjadi lebih aman dan relatif lebih nyaman. Bahkan, apartemen tertingi di Benua Hitam mampu menarik wisatawan yang penasaran untuk datang. Tak perlu takut dan cemas, disediakan tur yang lebih terjamin.

Mike Lupak, Direktur perusahaan wisata Dlala Nje mengatakan, tur menawarkan kesempatan bagi para wisatawan untuk menyaksikan perubahan di Ponte, dan Johannesburg secara keseluruhan. “Sejarah Ponte menjadi salah satu yang menarik. Fakta bahwa gedung itu masih ada dan tetap ada orang-orang yang menghuninya. Ponte City bukan penjara, bukan sesuatu yang telah dilupakan orang,” kata dia.

Jadi, kata dia, para pengelola tur mencoba untuk kembali menghidupkan Ponte. “Karena faktanya, itu adalah tempat yang indah, memiliki keragaman, multikultural, dan penuh dengan kreativitas.” Tur ke Ponte telah populer di TripAdvisor. Berkunjung ke Ponte disebut sebagai “pengalaman yang membuka mata” dan “menarik” bagi wisatawan. Tertarik untuk berkunjung?
abarua6 | Sales Executive
Newbie
Newbie
Thu Apr 27, 2017 2:14 pm
Kalau dilihat, bangunannya unik banget. Mungkin di Indonesia, jarang ada apartemen berbentuk tabung seperti itu. Ngomong2 soal apartemen, kebanyakan warga kota-kota besar di Indonesia lebih memilih untuk tinggal di apartemen, bahkan sudah jadi trend.
Ingin rumah anda bebas dari atap yang bocor saat hujan deras. Ganti atap anda dengan atap pvc!
senopati | marketing
Newbie
Newbie
Wed Jul 19, 2017 3:26 pm
Waduh serem banget ya kalo apartemen jadi menara kematian.
Silahkan untuk yang berminat Sewa Apartemen Residence 8 Senopati murah di Jakarta Selatan
Palu1000 | Sales Marketing
Newbie
Newbie
Thu Nov 09, 2017 11:27 am
Itu bangunannya bener-bener totalitas banget ya, sudahnya bangunannya angker, terus dibangun di tempat yang angker juga. Tapi bangunannya memang unik sih dan sayang sekali kalau bangunan yang sebetulnya kaya akan seni itu harus berakhir jadi bangunan angker. jadi bikin penasaran ingin berkunjung apalagi kalo bangunannya masih kokoh. Jadi penasaran saat proses konsruksi bangunannya berapa lama ya.
Kami merupakan salah satu perusahaan Jasa Pancang di Jakarta yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun.
4 posts Page 1 of 1
cron